
Tidak
bisa dipungkiri, makhluk yang namanya manusia pasti pernah mengeluh.
Disadari atau tidak, mengeluh seperti sudah menjadi bagian dari hidup.
Hanya saja, frekuensi dan kualitas keluhannya yang membedakan antara
satu personal dengan personal lainnya.
Biasanya perbedaan ini
terkait dengan tingkat pemahaman dan cara pandang seseorang tentang
suatu masalah yang sedang ia hadapi. Sabar, ikhlas dan seberapa besar
keinginan untuk mengubah sebuah keadaan menjadi lebih baik, biasanya
akan meminimalisir keluhan.
Sebaliknya, sikap apriori, pesimis
dan berburuk sangka terhadap kejadian yang sedang menimpa secara
otomatis akan memunculkan keluhan-keluhan yang alih-alih mendapatkan
penyelesaian, malah akan menambah ruwet dan bisa jadi menambah masalah
baru.
Mengeluh sejatinya perwujudan dari rasa tidak puas, tidak
ikhlas menerima sebuah ketentuan yang terjadi, baik dari segi materi
dan non materi. Ketika sakit berkeluh kesah, macet mengumpat, banjir
atau kekeringan mengkambing hitamkan orang lain. Atau ketika ditimpa
musibah menghardik Tuhan tidak adil, gaji kecil, belum punya rumah dan
kendaraan pribadi acap menyalahkan suami (bagi para istri) atau
anak-anak nakal dan bermasalah tidak jarang meyalahkan istri (bagi para
suami).
Ya, sebagian contoh kecil tersebut adalah manifestasi
dari rasa tidak puas. Belum lagi kita saksikan fenomena di negeri yang
kita cintai ini. Berita di televisi mayoritas menyuguhkan tentang
aksi demo dan kekerasan, kerusuhan dimana-mana, tindak kriminal,
penyalahgunaan kekuasaan, korupsi-kolusi dan nepotisme dan banyak lagi
yang kesemuanya menunjukkan pada satu hal : ketidakpuasan! Sebuah
potret masyarakat yang diwarnai dengan berbagai keluhan